widgeo.net

Sunday, December 30, 2012

6 Kiat Belajar Sukses




Imam Syafi'i berkata:
 "Saudaraku, ilmu itu tidak bisa kau raih, kecuali dengan 6 hal : kecerdasan, kesungguhan, ketamakan, bekal, dekat dengan guru, dan waktu yang panjang".



Akan dikemukakan 6 komponen utama kesuksesan dalam belajar menurut Imam Asy-Syafi'i. Mari kita simak bersama.

1. Kecerdasan
 Agar kita sukses dalam belajar, maka kita harus cerdas hati dan akal. Ini komponen pertama yang dimaksudkan Imam Syafi'i. Kecerdasan yang tinggi tidak hanya dinilai dari IQ yang tinggi tapi juga EQ-nya harus tinggi. Bukan hanya akal yang harus hebat, hati pun harus bersih.
IQ bersifat turunan, ia tidak bisa ditingkatkan lagi kapasitasnya. sementara EQ, ia naik turun kualitasnya, tergantung pada kebaikan dan keburukan yang kita lakukan. Semakin banyak kebaikan yang kita lakukan, semakin tinggi kualitas hati;semakin banyak berbuat dosa, semakin rendah kualitas hati. Inilah rahasianya, mengapa ketika belajar, pelajaran itu sulit masuk dan cepat keluar. dosalah penyebabnya. Maka, tinggalkanlah dosa kalu ingin kecerdasan Anda berlipat ganda!!!


2. Kesungguhan
Komponen kedua kesuksesan dalam menuntut ilmu adalah kesungguhan. Seperti para sahabat Rasulullah walaupun sarana transportasi yang ada pada waktu itu hanya unta dan kuda, berbeda pada saat ini, namun tidak menghalangi mereka untuk menemui guru-guru utama yang bisa mengajari mereka ilmu dari tangan pertama.


3. Ketamakan
Komponen ketiga untuk meraih sukses dalam menuntut ilmu menurut Imam Syafi'i adalah tamak. Sifat tamak adalah sifat yang buruk, kecuali dalam menuntut ilmu, gairah kita dalam belajar akan sangat lemah. Karena itulah Rasullah saw memuji Abu Hurairah yang tamak dalam mengumpulkan hadits.


4. Perbekalan
Komponen keempat kesuksesan dalam menuntut ilmu adalah bekal. Bekal merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam menuntut ilmu. Seorang pelajar tentunya sangat membutuhkan buku-buku dan alat-alat tulis, biaya perjalanan, dan ongkos hidup selama ia menuntut ilmu. karena itu, bekal adalah salah satu faktor yang harus dipersiapkan seseorang ketika ia hendak menuntut ilmu.


5. Berguru
Komponen kelima untuk meraih kesuksesan dalam belajar adalah memiliki guru. Guru adalah jalan pintas atau jalan termudah untuk memperoleh ilmu. Seorang guru dapat menghindarkan kita dari kesalahpahaman. Dari guru itu pula kita bisa menimba kekuatan ruhani, karena yang namanya semangat tidak bisa dipelajari, tapi hanya bisa ditularkan oleh orang yang telah memilikinya. Dengan berguru pula kita bisa menghindari berbagai penyakit hati seperti ujub dan sombong.


6. Waktu Yang Panjang
Komponen keenam untuk meraih kesuksesan dalam belajar, menurut Imam Syafi'i adalah waktu yang panjang. Menuntut ilmu tidaklah seperti memakan cabe rawit; sekarang dimakan, dan sekarang pula terasa pedasnya. Tak pernah kita menemukan tumbuhan yang hari ini ditanam, dan pada hari ini pula berbuah. Semuanya membutuhkan proses, dan proses menuntut ilmu membutuhkan waktu sangat panjang, bahkan sepanjang kehidupan kita.


http://kiatbelajarsuksess.blogspot.com/

Saturday, December 29, 2012

Belum Merasakan Kelezatan Iman, Hingga Beriman pada Takdir

Dari Al-Walid bin Ubadah, ia bercerita bahwa dirinya menemui ayahnya, yaitu Ubadah Radhiyallahu Anhu yang tengah menderita sakit yang dikhawatirkan akan meninggal karenanya. Aku (Al-Walid) berkata, "Ayah, berilah aku wasiat dan berusahalah mengatakan sesuatu untukku." Ubadah berkata, "Bantu aku untuk duduk!" Setelah itu, ia berkata, "Anakku, engkau belum merasakan iman dan belum pula mencapai hakikat ma'rifat kepada Allah, hingga engkau beriman akan takdir, yang baik maupun yang buruk!

Aku bertanya, "Ayah, bagaimana aku mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?" Ayahku menjawab, "Engkau meyakini bahwa apa pun yang menyalahkanmu bukan untuk menimpakan penderitaan kepadamu dan apa pun penderitaan yang menimpamu bukanlah untuk menyalahkanmu. Anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Yang mula-mula Allah ciptakan adalah qalam (pena). Kemudian Dia bertitah, "Tulislah!" Maka berlakulah saat itu semua yang ada hingga datang hari kiamat." Jika aku mati dan aku tidak meyakini demikian, maka aku pasti masuk neraka."

(Sumber: 1001 Kisah Teladan, Hani al-Haj, Pustaka Al-Kautsar)
 

Tidak Punya Harta yang Dapat Aku Wariskan

Umar bin Abdul Aziz Rahimahullah, salah seorang khalifah Bani Umayyah, meninggalkan sebelas anak dan masing-masing anak mendapat warisan hanya tiga perempat dinar. Saat menjelang kematiannya, ia berkata kepada mereka, "Aku tidak mempunyai harta yang dapat aku wariskan." Sementara itu, Hisyam bin Abdul Malik, salah seorang khalifah Bani Umayyah berikutnya, meninggalkan sebelas anak dan masing-masing anaknya mendapat warisan satu juta dinar. Di kemudian hari, ternyata tidak ada satu pun dari anak-anak Umar bin Abdul Aziz, kecuali mereka kaya. Bahkan salah seorang anaknya, sanggup menyediakan biaya dari harta pribadinya untuk seratus ribu pasukan berkuda sekaligus dengan kudanya dalam perang fi sabilillah. Sementara tidak ada seorang pun di antara anak-anak Hisyam bin Abdul Malik, kecuali mereka jatuh miskin.  
(Sumber: 1001 Kisah Teladan, Hani Al-Haj)

Sunday, July 8, 2012

Kenalilah Dengan Siapa Kamu Berteman

           Alqamah bin Lubaid menasehati anaknya,
    "Anakku, jika jiwamu pada suatu hari membisikkanmu untuk berteman dengan orang-orang karena kau membutuhkan mereka, maka bertemanlah dengan orang yang apabila engkau berteman dengannya, ia akan membuatmu menawan; apabila engkau bergegas mendekatinya, ia akan melindungimu; apabila cobaan menimpamu, ia meringankan bebanmu; apabila engkau berkata, ia membenarkan kata-katamu; apabila engkau menggandengnya, ia menggandengmu lebih erat. Bertemanlah dengan orang yang apabila engkau mengulurkan tanganmu untuk memberi, ia pun mengulurkan tangannya; apabila ia melihat kebaikan darimu, ia memandangnya; apabila tampak darimu suatu kekurangan, ia menutupinya. Bertemanlah dengan orang yang tidak akan mendatangkan kejahatan bagimu, tidak berseberangan jalan denganmu, dan tidak pula merendahkanmu saat menghadapi kenyataan."  

(Sumber: 1001 Kisah Teladan, Hani al-Haj, Pustaka Al-Kautsar)

Saturday, July 7, 2012

Takut Riya'

         Ali bin Fudhail menuturkan bahwa ayahnya, Fudhail membuat kesepakatan dengan Ibnu al-Mubarak untuk bertemu di depan pintu "Bani Syaibah" (salah satu pintu yang ada di Masjidil Haram). Lantas, setelah bertemu, Ibnu al-Mubarak mengajak Fudhail untuk masuk ke dalam masjid, hingga mereka bisa memulai untuk sama-sama belajar.  Namun, Fudhail berkata, "Bukankah kalau kita masuk, engkau akan menyampaikan kepadaku pengetahuan yang tidak aku ketahui dan aku pun akan menyampaikan kepadamu pengetahuan yang tidak engkau ketahui? Ibnu al-Mubarak menjawab, "Benar memang demikian." Maka, keduanya pun pergi, dan tidak jadi masuk masjid.
      Abu Sulaiman al-Khithabi berkata, "Al-Fudhail berkata demikian, karena ia tidak suka dengan perbuatan tersebut dan takut riya." Hal ini, seperti kata-kata Fudhail sendiri, "Bagi seorang Alim, bertemu dengan setan lebih baik baginya, dari pada bertemu dengan orang Alim yang seperti dirinya." 

(Sumber: 1001 Kisah Teladan, Hani al-Haj, Pustaka Al-Kautsar).